Apakah Benar Cedera Operasi Bisa Sebabkan Bell's Palsy ? - Yayasan Ginjal Indonesia

15/01/2021

15 Januari 2021

 

Gambar wajah orang syok oleh bing.com

Yagin, Jakarta – Operasi dilakukan untuk mengatasi beberapa kondisi medis. Namun, tak jarang ada efek samping yang muncul setelah prosedur operasi dilakukan. Benarkah bell’s palsy salah satunya? Mengapa prosedur operasi bisa menyebabkan seseorang mengalami bell’s palsy? Cari tahu jawabannya di artikel berikut!

Bell’s palsy berisiko terjadi pada operasi di wajah. Kondisi ini umumnya terjadi karena ada kesalahan selama operasi yang kemudian menyebabkan masalah pada saraf. Nah, gangguan atau kerusakan pada saraf tersebut yang bisa meningkatkan risiko bell’s palsy, yaitu kondisi yang menyebabkan kelumpuhan pada satu sisi wajah. Biasanya, kondisi ini hanya berlangsung sementara.

Mengapa Bell’s Palsy setelah Operasi bisa Terjadi?

Bell’s palsy adalah kondisi yang menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi wajah. Penyakit ini juga disebut dengan lumpuh wajah idiopatik. Bell’s palsy terjadi karena ada disfungsi pada saraf wajah. Hal itu kemudian membuat otot-otot di satu sisi wajah menjadi kaku. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kondisi ini, salah satunya cedera operasi.

Pengidap bell’s palsy akan kesulitan untuk mengedipkan atau menutup mata. Orang dengan gangguan ini juga akan kesulitan untuk tersenyum karena kekakuan pada wajah. Meski begitu, bell’s palsy umumnya hanya akan berlangsung dalam waktu sementara. Lantas, apa alasan cedera operasi bisa menyebabkan seseorang mengalami bell’s palsy?

Dalam prosedur operasi, ada kemungkinan terjadi kesalahan atau kecelakaan. Pada operasi pada bagian wajah, misalnya operasi plastik, kesalahan seperti itu bisa memicu tekanan atau gangguan pada saraf dan berujung pada kekakuan wajah. Meski begitu, tidak semua operasi pada wajah pasti menyebabkan gangguan ini, tergantung pada lokasi operasi, bagian yang mendapatkan operasi, hingga seberapa rumit operasi tersebut dilakukan.

Selain cedera operasi, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu bell’s palsy atau peradangan pada saraf wajah. Ada beberapa hal lain yang bisa memicu kondisi ini, salah satunya infeksi virus yang mengakibatkan penyakit, seperti herpes simplexherpes zosteradenovirus, rubella, hingga virus gondong. Saat saraf meradang dan membengkak, saraf yang mengontrol otot-otot wajah kesulitan untuk melewati koridor tulang yang sempit dan berujung pada gangguan fungsi.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini, salah satunya dengan mengamati gejala yang muncul serta kondisi fisik pengidap penyakit ini. Pemeriksaan berfokus pada area wajah, yaitu dengan meminta melakukan beberapa gerakan, seperti menutup mata atau mengernyitkan kening. Selain itu, ada beberapa tes khusus yang bisa dilakukan untuk memastikan bell’s palsy, di antaranya:

  • Elektromiografi: Tes ini dilakukan untuk menentukan sejauh mana kerusakan saraf penyebab bell’s palsy terjadi.
  • MRI atau CT scan: Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan jika terdapat gangguan struktural untuk gejala yang timbul.
  • Tes Darah: Pemeriksaan ini untuk menentukan jika terdapat kondisi lainnya yang bisa memicu gangguan pada saraf.

Diagnosis perlu segera dilakukan jika seseorang menunjukkan tanda bell’s palsy, terutama setelah menjalani prosedur operasi. Dengan begitu, risiko terjadinya komplikasi lain yang lebih parah bisa dihindari. Jika itu yang terjadi, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit.

Sumber: halodoc.com

Edit by: Risma Andira


Sekretariat
Yayasan Ginjal Indonesia
Jl. Kayu Manis X No.34, RW.1, Pisangan Baru, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13130

(021) 22111610
admin@yagin.co.id
Nomor Rekening

  3420406923
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  0060009995014
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  706016648600
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

bt_bb_section_top_section_coverage_image

© 2021 | Yayasan Ginjal Indonesia