Kisah Sukses Si Vaksin - Yayasan Ginjal Indonesia

16/08/2021
Diawali dari penyakit abad ke 5 – 15 merajalela dari banyak benua, Asia dimulai dari China, Eropa dimulai dari Inggris, dan juga Yunani. Ketiga negara itu menjadi satu titik terbanyak dalam penyebaran penyakit ini, sebutan kerennya Smallpox (cacar) dan Measles (campak) keduanya seperti alat pembunuh masal, dan pada saat itu keberadaannya sangat mengerikan bagi manusia. Ketiga negara ini memiliki sejarahnya masing-masing dalam memberantas cacar dan campak

 

            Pada kasus China bentuk kuno dari vaksinasi dikenal dengan inokulasi. Inokulasi adalah proses pembiakan bakteri pada suatu pembenihan, pemberian virus atau bakteri ini diberikan melalui luka pada kulit dengan tujuan mencegah infeksi agar tidak semakin parah. Teknik ini menyebar ke tanah Afrika dan Turki sebelum menyebar ke Eropa dan Amerika pada abad ke-18 ketika terjadi wabah cacar. Dengan variolasi (inokulasi), tingkat kematian akibat cacar dapat dikurangi pada saat itu.

            Istilah pertama vaksin lahir ditangan Imunologi dari Inggris. Serang dokter dan ilmuwan yang melopori konsep vaksin pertama di dunia. Hal itu pertama kali dilakukannya ketika wabah cacar melanda Eropa. Edward Jenner lahir di Berkeley, Gloucestershire pada 17 Mei 1749. Jenner lahir pada saat pola praktik medis dan Pendidikan mengalami progres baik.

            Abad 18 penyakit cacar ini menyita satu per-satu nyawa warga Inggris dengan cepat. Dari laman Sindonews.com Janner awalnya mengamati tetangganya “Sarah” yang mengidap cacar sapi di tangan dan lengannya. Ia bertanya, lalu Sarah menyebutkan bahwa dia tidak akan tertular cacar karena ia pernah mengidap cacar sapi. Dengan penjelasan tersebut Jenner pun yakin cacar sapi dapat melindungi manusia dari cacar alami yang mematikan.

            Dari pengamatan itulah akhirnya Janner dan temannya menguji teori serta melakukan eksperimen juga praktek lapangan, langsung kepada penderita cacar saat itu. Setelah benar terbukti ampuh menyembuhkan cacar, Janner bertahap menyuntikkan bahan cacar sapi ini ke seluruh warga dengan teknik inokulasi. Namun, ada satu kendala lagi yang menjadi kekhawatirannya.  Penerima variolasi masih mungkin menyebarkan cacarnya kepada orang lain, efek samping lainnya adalah memungkinkan penularan penyakit lain seperti sifilis.

            Maka dari itu Jenner bersama ahli medis lainnya mencari alternatif terhadap variolasi yang sudah ada di Asia pada tahun 1600an dan di Eropa serta Amerika pada awal tahun 1700an. Vacca adalah bahasa Latin dari sapi dan Vacinia adalah cacar sapi. Pada tahun 1798, akhirnya ia mempublikasikan hasil temuannya sendiri dengan buklet kecil dan Jenner meneguhkan kata vaksin. Sejak saat itulah, istilah vaksin dikenal sebagai pencair suasana wabah cacar berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan, berfungsi untuk kekebalan tubuh manusia dan mencegah terinfeksinya dari suatu penyakit.

Sejak itu, vaksin terus berkembang & sebagai alat pilar primer pencegah penyakit menular. Salah satu indikasi kesuksesan vaksin yg paling luar biasa, yaitu ketika WHO berhasil menghapuskan cacar menggunakan perluasan cakupan vaksinasi cacar sampai ke tingkat universal dalam tahun 1956. Pada tahun 1980 akhirnya cacar dinyatakan sudah tereliminasi dari dunia, salah satu alat pencapaian terbesar kedokteran. Selain cacar, beberapa penyakit lain telah ditemukan vaksinnya misalnya campak, polio, pertusis, difteri, & tetanus.

Melirik dari sejarah, tujuan pembuatan vaksin tak abai adalah hanya untuk menyelamatkan umat manusia dari penyakit menular yang mematikan seperti cacar. Jangan sampai karena kelalaian dan informasi yang tidak jelas membuat kita takut untuk melakukan vaksinasi.

Penulis: Maria

Post by: Risma Andira


Sekretariat
Yayasan Ginjal Indonesia
Jl. Kayu Manis X No.34, RW.1, Pisangan Baru, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13130

(021) 22111610
admin@yagin.co.id
Nomor Rekening

  3420406923
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  0060009995014
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  706016648600
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

bt_bb_section_top_section_coverage_image

© 2021 | Yayasan Ginjal Indonesia