Menapis Massal, Mencegah Gagal Ginjal - Yayasan Ginjal Indonesia

02/11/2020

freepik.com

Jakrta, Yagin.co.id – Ketidaktahuan bisa membawa bahaya (dan biaya) berganda. Banyak kalangan di masyarakat tidak mengenal apa itu penyakit gagal ginjal kronis (GGK). Tidak hanya di Indonesia, tetapi di banyak negara maju sekalipun.

Kita baru mengetahui GGK setelah ada orang di dekat kita harus cuci darah rutin. Untuk memperpanjang “nyawa”, GGK jelas menghabiskan biaya tinggi, kerap menguras harta hasil jerih payah. Ini memang penyakit berbahaya dan mahal.

Ketidaktahuan dan ketidakpedulian itu meningkatkan secara eksponensial risiko kematian pada GGK itu. Penurunan fungsi ginjal bisa berlanjut dengan kelipatan hingga 100 kali lebih tinggi ketika berada tahap gagal ginjal terminal dibandingkan yang tahap awal yang hanya dua hingga empat kali.

Repotnya lagi, GGK mampu memicu faktor risiko komplikasi klinis lainnya dengan penyakit kronis lainnya seperti pada neoplasia (tumbuhnya jaringan abnormal) dan infeksi kronis. Singkatnya GGK menjadi pengganda risiko yang sangat sering terjadi pada pasien dengan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung).

Tidak bisa tidak, penyakit GGK mesti dicegah dengan satu tekad: kepedulian. Di level dunia, untuk mengetuk perhatian yang lebih intim dengan penyakit yang diam-diam bisa menyergap kita ini diadakan World Kidney Day. Hari Ginjal Sedunia diadakan sejak 2006

Tema ini bisa dimaknai bahwa sesungguhnya setiap insan dianugerahi sepasang ginjal sehat sebagai komponan vital dalam tubuh. Para penderita GGK sesungguhnya bisa dianggap korban ketidaktahuan.
Artinya ini peringatan agar kita selalu waspada dalam merawat ginjal sehat kita semua sehingga tidak menambah jumlah kepedihan akibat penurunan kualitas hidup akibat GGK.

Secara universal, prevalensi penyakit ginjal terus naik. Angkanya bisa melebihi 15 persen jumlah penduduk. Dan lebih dari sepertiganya bisa berujung pada GGK.

Lebih dari separo GGK bisa berujung pada kematian bersebab langsung akibat penyakit yang keparahannya meningkat perlahan lahan (silent killer) ini.

Laporan lain menyebutkan gagal ginjal kronis yang semula dari peringkat 25 pada 1990 menjadi nomor 17 pada 2015 dalam hal penyebab kematian bahkan terakhir ini menempati posisi keenam.

Meningkatnya prevalensi GGK bersama dengan perbaikan dalam kelangsungan hidup pasien cuci darah akan menghasilkan peningkatan berulang dari prevalensi kelompok cuci darah.

Di antara kelompok tersebut, hipertensi dan diabetes, serta obesitas merupakan pendorong utama GGK. Pasien dengan neoplasia dan dengan penyakit menular kronis, seperti HIV dan virus hepatitis (HBC) dan pasien yang terpapar obat nefrotoksik (beracun terhadap ginjal) juga berisiko lebih tinggi menuju GGK.

Yah, bagaimana lagi tidak meroket sebagai risiko kematian, karena banyak jalan yang menyerang ginjal kita. Gaya hidup menyangkut apa yang masuk ke mulut kita menjadi pintu serangan terbanyak.
Beragamnya pilihan makanan dan minuman yang indah di mata dan enak di rongga mulut bisa menjadikan ginjal kita bekera jauh lebih keras. Hasilnya, lingkar pingang yang makin melebar, dan bobot badan yang berlebihan.

Kita perlu stop mengampanyekan slogan menghibur diri: gemuk, tapi sehat. Lebih baik mengupayakan berat badan ideal, agar organ-organ tubuh kita bisa bekerja proporsional, termasuk ginjal.

Meski begitu, orang yang tak mampu menikmati gaya hidup makmur perlu juga waspada. Risiko GGK mengintip karena kekurangan ekonomi bisa menyempitkan kesempatan akses ke promosi kesehatan.

Mereka juga terpapar risiko mengonsumsi bahan makanan berkualitas rendah yang banyak bahan sintetis pemicu hipertensi, dan diabetes pada orang dewasa dan obesitas pada anak-anak.

Jadi, sikap hidup berlebihan di kalangan orang mampu, serta sempitnya pilihan di kalangan orang tak mampu ternyata sama-sama berisiko terhadap kesehatan, termasuk ancaman GGK.

Bedanya, orang mampu bisa punya keleluasaan dalam biaya perawatan kesehatan setelah sakit, sedangkan orang tidak mampu makin miskin karena sakit. Tetapi, kedua-duanya mengalami kemerosotan mutu hidup.

Jelas semua ini akan meningkatkan beban ekonomi. Dalam konteks di mana biaya untuk penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskular diperberat oleh epidemi obesitas dan menguras sebagian besar sumber daya perawatan kesehatan. Ingat biaya BPJS yang kian menggajah dan kecil kemungkinan akan lebih kecil. .

Resep paling mujarab dan murah tetaplah mencegah. Cegah, cegah, cegah. Perlu suatu cara profesional dan sistematis dalam pencegahan yang sangat penting untuk dilakukan, selain sikap individu untuk menahan diri dan menghindari risiko memperpayah kerja ginjal.

Ada peluang jaminan bahwa pencegahan juga dapat membantu mengendalikan beban kardiovaskular yang berasal dari penyakit gagal ginjal kronis  ini.

Kebijakan kesehatan untuk gagal ginjal kronis  perlu diselaraskan dengan kebijakan untuk penyakit kronis lainnya. Perlu lebih tajam program deteksi dan pengobatan untuk mencegah atau menunda perkembangan penyakit ginjal kronis dan komplikasi kardiovaskular yang dihasilkannya.

Utamanya pemerintah –yang punya perangkat kekuasaan untuk menolong masyarakat– harus serius menterjemahkan visi ini ke dalam kebijakan kesehatan masyarakat.

Pendekatan masuk akal adalah dengan menargetkan individu dengan faktor risiko kardiovaskular atau mengidap kardiovaskular dan penderita diabetes; yang dalam GGK berperan sebagai penguat risiko.

Dengan menggunakan infrastruktur yang ada, program penapisan massal pada kelompok yang dicurigai gagal ginjal kronis sungguh sangat disarankan.

Budayakan check up dan pemeriksaan lab massal rutin di unit-unit layanan kesehatan untuk mendeteksi risiko berbagai penyakit. Lakukan secara umum tanpa mengenal tempat dan apapun.

Setelah tertapis berbagai risiko penyakit, lakukan pendampingan agar kelompok risiko menyadari kondisinya, termasuk yang berisiko disergap GGK. Mungkin akan berbiaya pada awalnya, namun akan murah pada akhirnya.

Karena mengurangi risiko perawatan mahal dan muram yang hanya memperpanjang “nyawa” seperti cuci darah.

Sumber: Rumahginjal.id

Editor by: Sarmin


Sekretariat
Yayasan Ginjal Indonesia
Jl. Kayu Manis X No.34, RW.1, Pisangan Baru, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13130

(021) 22111610
admin@yagin.co.id
Nomor Rekening

  3420406923
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  0060009995014
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  706016648600
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

bt_bb_section_top_section_coverage_image

© 2021 | Yayasan Ginjal Indonesia