Metode Cuci Darah Melalui Perut,Mengenal CAPD - Yayasan Ginjal Indonesia

22/09/2021

 

gambar: hd.co.th

 

Yagin, Jakarta – CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis) adalah metode cuci darah yang dilakukan melalui perut. Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum) yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa.

Perawatan Pasien Gagal Ginjal Pada Masa Pandemi Cuci darah bermanfaat untuk membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme, elektrolit, mineral, dan cairan berlebihan akibat penurunan ginjal. Sayuran yang Baik untuk Pasien Gagal Ginjal. Selain itu, cuci darah juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

Persiapan Sebelum CAPD

Pasien diharuskan untuk menjalani operasi pemasangan kateter ke dalam rongga perut terlebih dahulu. Kateter ini nantinya berguna sebagai tempat keluar-masuknya cairan dialisis, yaitu cairan steril untuk menarik zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, dan air dari tubuh.

Dalam operasi pemasangan kateter, dokter bedah akan membuat sayatan kecil (biasanya di samping bawah pusar), setelah pasien diberi obat bius total atau lokal. Dari sayatan tersebut, dimasukkanlah kateter hingga mencapai rongga perut (rongga peritoneum).

Setelah operasi selesai, pasien bisa saja diharuskan menjalani rawat inap semalaman. Namun, kebanyakan bisa langsung pulang.

Walaupun cuci darah bisa dilakukan segera setelah kateter terpasang, kateter akan bekerja lebih baik jika luka operasi sembuh dulu, yaitu dalam waktu 10-14 hari atau hingga 1 bulan.

Bagaimana CAPD Dilakukan?

Pertama-tama, pasien perlu meletakkan kantong berisi cairan dialisis setinggi bahu. Cairan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rongga perut dengan bantuan gravitasi.

Setelah cairan dialisis masuk seluruhnya ke dalam rongga perut, kateter harus ditutup dan pasien bisa bergerak serta menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Setelah 4-6 jam, cairan dialisis yang mengandung zat sisa bisa dialirkan keluar dari rongga perut, untuk kemudian dibuang ke toilet atau kamar mandi. CAPD bisa dilakukan sebanyak 3-6 kali dalam sehari, dengan satu kali pengisian cairan sebelum tidur.

Kelebihan CAPD

CAPD memiliki efektivitas yang hampir sama dengan hemodialisis (HD). Namun, ada beberapa keunggulan CAPD jika dibandingkan dengan HD, di antaranya adalah:

  • Tidak ada perubahan aliran darah drastis yang biasanya terjadi pada hemodialisis, sehingga beban pada jantung dan pembuluh darah lebih ringan.
  • Penggunaan obat-obatan lebih sedikit.
  • Lebih leluasa dan mandiri. Cuci darah dengan mesin umumnya dilakukan di rumah sakit atau pusat hemodialisis, sedangkan CAPD bisa dilakukan di mana pun asalkan bersih. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk pertukaran cairan tidak lama, jadi Anda masih bisa beraktivitas seperti biasa, bekerja, maupun berpergian. Sebelum berangkat ke tempat tujuan, pastikan peralatan yang diperlukan untuk pertukaran cairan sudah siap.
  • Metode Terapi Pasien Gagal Ginjal tidak seketat pasien yang menjalani hemodialisis, karena proses cuci darah lewat perut bisa dilakukan lebih sering.
  • Fungsi ginjal mungkin bisa dipertahankan lebih lama.
  • Tidak perlu menerima tusukan jarum suntik atau jarum infus.
  • Lebih sedikit masalah bagi pasien yang mengalami anemia.
  • Tingkat kematian lebih rendah.
  • Risiko terjadinya demensia lebih rendah

Kekurangan CAPD

CAPD belum tentu tepat bagi semua penderita gagal ginjal. Kondisi yang membuat cuci darah lewat perut sulit atau tidak bisa dilakukan adalah:

  • Obesitas atau kegemukan.
  • Pernah menjalani operasi perut beberapa kali atau ada bekas luka operasi yang besar di perut.
  • Penyakit hernia, kolitis ulseratif, infeksi bakteri Clostridium difficile, kanker usus, serta penyakit hati stadium akhir dengan asites.
  • Adanya lubang (ileostomi atau kolostomi).
  • Kurang mampu merawat diri sendiri atau terbatasnya bantuan orang lain.

Risiko CAPD

Meski sebenarnya semua metode cuci darah memiliki risiko, namun ada beberapa kondisi yang lebih rentan terjadi akibat CAPD, seperti:

1. Hernia

Adanya lubang di otot perut tempat masuknya kateter serta tekanan dari dalam rongga perut akibat cairan dialisis dapat mengakibatkan munculnya hernia di dekat pusar, selangkangan, atau dekat tempat masuknya kateter.

2. Kenaikan berat badan dan kadar gula darah

Cairan dialisis mengandung gula yang bisa terserap oleh tubuh, sehingga pasien berisiko mengalami kenaikan berat badan dan diabetes.

3. Perut membesar

Selama cairan dialisis ada di dalam perut, perut mungkin membesar dan terasa seperti kembung atau penuh. Namun, umumnya tidak sampai menyebabkan nyeri.

4. Masalah pencernaan

Pasien yang menjalani CAPD lebih sering mengalami masalah pencernaan, seperti penyakit asam lambung (GERD), sakit maag (dispepsia), obstruksi usus (penyumbatan usus), atau perlengketan usus, dibandingkan pasien yang menjalani hemodialisis.

5. Infeksi

Komplikasi yang paling serius adalah infeksi. Infeksi bisa terjadi pada kulit di sekitar tempat masuknya kateter atau di dalam rongga perut akibat masuknya kuman melalui kateter.

Gejala dari infeksi kulit meliputi kulit kemerahan, bernanah, bengkak, dan nyeri tekan pada tempat keluarnya kateter. Sedangkan peritonitis dapat menimbulkan gejala berupa:

  • Nyeri perut
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Cairan dialisis yang sudah terpakai berwarna keruh
  • Kateter seperti terdesak keluar dari perut

Cuci darah bisa membantu mengurangi keluhan dan memperpanjang harapan hidup, namun tidak dapat mengobati Metode Terapi Pasien Gagal Ginjal. Konsultasikan dengan dokter mengenai pemilihan metode cuci darah yang tepat untuk Anda, termasuk CAPD, dengan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangannya.

 

Sumber: Alodokter

Edit by: Yunianti 


Sekretariat
Yayasan Ginjal Indonesia
Jl. Kayu Manis X No.34, RW.1, Pisangan Baru, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13130

(021) 22111610
admin@yagin.co.id
Nomor Rekening

  3420406923
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  0060009995014
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  706016648600
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

bt_bb_section_top_section_coverage_image

© 2021 | Yayasan Ginjal Indonesia