Mungkinkah Sakit Ginjal Tanpa Cuci Darah? - Yayasan Ginjal Indonesia

26/03/2021

26 Maret 2021

Yagin, Jakarta – Cuci darah alias dialisis adalah prosedur yang dilakukan pada pengidap penyakit ginjal. Prosedur ini dilakukan untuk “menggantikan” fungsi ginjal yang menurun karena serangan penyakit. Cuci darah berfungsi untuk membuang limbah berbahaya di dalam tubuh.

Dalam kondisi normal, membuang limbah berbahaya dalam tubuh sebenarnya adalah fungsi alami organ ginjal. Organ ini akan menyaring darah dan memisahkan zat berbahaya serta cairan berlebih untuk kemudian dikeluarkan dari urine.

Saat ginjal mengalami masalah atau terserang penyakit, fungsinya bisa terganggu. Karena itu, dibutuhkan cara lain untuk menyelesaikan tugas tersebut, yaitu melalui prosedur cuci darah. Lantas, mungkinkah orang yang mengidap penyakit ginjal tidak menjalani cuci darah?

Hal itu kembali pada jenis penyakit ginjal yang menyerang. Biasanya, prosedur cuci darah dilakukan pada orang yang mengidap penyakit ginjal kronis. Penyakit ini menyebabkan ginjal mengalami penurunan fungsi di bawah batas normal.

Gagal ginjal kronis menyebabkan tubuh pengidapnya tidak mampu menyaring kotoran, tidak mampu mengontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Hal itu kemudian menyebabkan zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna tetap tinggal dan membahayakan tubuh.

Baca juga: Prosedur Cuci Darah untuk Penyakit Gagal Ginjal

Pengidap penyakit ginjal kronis biasanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjalani prosedur ini dibanding pengidap sakit ginjal akut atau gangguan ginjal lain. Pasalnya, cuci darah menjadi satu-satunya cara untuk menjaga tugas ginjal di dalam tubuh tetap berjalan seperti seharusnya, setidaknya menyerupai.

Berapa Lama Cuci Darah Harus Dijalani?

Seperti dijelaskan di atas, lamanya cuci darah tergantung pada kondisi sakit yang dialami. Ada pengidap gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah hanya sementara, namun ada pula yang harus berlangsung dalam jangka panjang, bahkan selamanya. Sakit ginjal yang belum memasuki masa akut biasanya tidak membutuhkan cuci darah dalam waktu lama.

Pengidap penyakit ginjal akut biasanya tidak lagi membutuhkan cuci darah setelah organ tersebut sembuh dan sudah bisa melakukan fungsi seharusnya. Saat gejala penyakit ginjal hilang, saat itu pula prosedur ini bisa dihentikan. Sayangnya, itu tidak berlaku pada orang yang mengidap penyakit ginjal kronis.

Orang dengan gagal ginjal kronis stadium akhir biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk cuci darah, yaitu sampai mendapatkan transplantasi ginjal. Dengan kata lain, sampai transplantasi ginjal terjadi, prosedur cuci darah tetap harus dilakukan.

Baca juga: Berbagai Efek Samping Setelah Cuci Darah yang Penting Diketahui

Kabar buruknya, menunggu datangnya transplantasi ginjal tidak selalu mudah. Entah karena tidak cocok atau tubuh tidak siap untuk menerima transplantasi. Jika itu yang terjadi, ada kemungkinan cuci darah alias dialisis harus dilakukan seumur hidup tanpa bisa dihentikan sama sekali.

Keputusan untuk menghentikan prosedur cuci darah harus diambil melalui diskusi dengan dokter yang merawat. Pada orang yang mengidap gagal ginjal akut, pemulihan bisa saja terjadi dan cuci darah bisa dihentikan. Tapi, menghentikan cuci darah pada pengidap penyakit ginjal kronis malah bisa meningkatkan keparahan penyakit yang berujung pada kondisi yang mematikan.

Sumber: halodoc.com

Edit by: Risma Andira


Sekretariat
Yayasan Ginjal Indonesia
Jl. Nanas No.21, RT.1, RT.1/RW.3, Utan Kayu Selatan, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur – DKI Jakarta

(021) 22325458
admin@yagin.co.id
Nomor Rekening

  3420406923
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  0060009995014
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

  706016648600
  a/n. Yayasan Ginjal Indonesia

bt_bb_section_top_section_coverage_image

© 2021 | Yayasan Ginjal Indonesia